SISTEM OPERASI II
Belajar untuk bisa menjadi orang mandiri

trik Belanja Online


Situs e-commerce mulai kembali bergeliat di industri Internet Indonesia. Layanan ini bisa sangat memudahkan, karena pengguna lebih praktis untuk berbelanja. Namun di sisi lain, ada ancaman yang menghantui penggiat layanan ini.

1. Verifikasi
Ketika ingin melakukan transaksi di situs belanja, satu hal yang harus dipastikan terlebih dahulu adalah legitimasi dan reputasi dari situs tersebut. Jangan lantas terpukau dengan iming-iming harga murah dari sebuah situs atau blog antah berantah.

Inilah yang biasa jadi pancingan penjahat cyber. Di situsnya, mereka memamerkan beragam barang dengan harga sangat miring. Pengguna pun tertarik dan lantas mentransfer pembayarannya. Namun naas, barang yang diimpikan tak kunjung datang dan uang pun sudah melayang.

Untuk mengetahui kredibilitas sebuah situs, ada baiknya melakukan investigasi kecil-kecilan di search engine. Lihat, apakah ada referensi tentang situs tersebut. Ini bisa jadi salah satu pertimbangan.

2. Keamanan Website
Ketika situs tersebut sudah dipastikan 'asli', langkah selanjutnya adalah memastikan sistem keamanan transaksi Anda. Beberapa cara sederhana untuk memastikan hal ini adalah dengan mengecek URL situs tersebut. Untuk situs yang lebih aman, URL yang digunakan biasanya menggunakan awalan 'https'. Sementara situs biasa menggunakan awalan 'http'.

Nah, situs tanpa awalan huruf 's' (dari kata 'https') inilah yang patut diwaspadai jika Anda ingin melakukan transaksi online di situs tersebut. Sebab sistem keamanan mereka kurang terjamin.

Kemudian, bisa juga mengeceknya dari keberadaan gambar 'gembok' di area URL atau di bagian bawah kanan halaman transaksi. Intinya Jika tidak ada gembok, situs tersebut relatif lebih aman. Terakhir adalah keberadaan semacam sertifikasi keamanan dari pihak ketiga. Salah satunya seperti 'Cybertrust secured websites'.

Tiga standar keamanan ini sejatinya sudah dijalankan oleh bank-bank dalam mengoperasikan situs e-banking mereka.

3. Security Software
Browser internet yang sekarang hadir juga telah semakin memperbaiki sistem peringatannya. Jadi ketika si pengguna secara tak sadar telah mengunjungi situs berbahaya yang ingin melakukan aksi phishing (pencurian informasi), maka browser tersebut secara otomatis bakal mengeluarkan tanda peringatannya.

Akan lebih bagus jika pada komputer yang digunakan diinstall pula aplikasi keamanan tambahan yang menyediakan firewall dan filter untuk menghadang aksi-aksi yang ingin menyerang komputer Anda.

4. Data Personal
Jangan asal mengumbar data-data pribadi nan sensitif di internet. Termasuk di antaranya adalah nomor telepon, alamat rumah, nomor kartu kredit, sosial security number, dan data privasi lainnya.

Hal sederhana yang kadang terlupa adalah membiarkan username, password, dan data pribadi kita tersimpan pada komputer, dengan alasan biar efisien. Hal ini akan sangat berbahaya jika kita melakukannya di komputer yang digunakan bersama-sama.

7 Langkah Aman Berinternet Banking


Internet banking, layanan perbankan di dunia maya ini semakin dilirik. Praktis, menjadi alasan mayoritas para penggunanya. Namun bagaimana soal keamanannya?

Pihak bank pasti telah memikirkan masak-masak sistem keamanannya sebelum mengeluarkan layanan e-Banking ke nasabah. Kini tinggal dari sisi pengguna, apakah mereka juga bisa menjaga kerahasiaannya?

1. Hindari PC Umum
Jangan pernah mengakses akun internet banking Anda dari komputer yang ditempatkan secara umum. Dalam hal ini bisa warnet ataupun komputer-komputer yang banyak orang bisa mengaksesnya. Spyware yang ada di PC umum tersebut bisa mengintai transaksi Anda, dan kejadian paling apesnya adalah program jahat tersebut dapat mencuri data-data Anda.

2. Pengawasan Rutin
Lakukan pengecekan terhadap akun online bank Anda secara rutin. Hal ini untuk memastikan bahwa tidak ada transaksi mencurigakan di rekam jejak akun Anda. Jika ada transaksi aneh, langsung lapor pada bank.

3. Perkuat Password
Gunakan password atau PIN yang tidak mudah ditebak. Password yang sulit ditembus adalah penggabungan dari huruf dan angka. Jangan pernah berpikir untuk menggunakan hari lahir Anda sebagai password, karena mudah ditebak dan orang banyak yang sudah tahu.

Akan lebih baik jika secara rutin Anda mengubah password tersebut. Sebuah perusahaan keamanan bahkan merekomendasikan untuk melakukan pengubahan password per tiga bulan.

4. 'Jangan Percaya' Bank atau Polisi
Jangan pernah mengumbar password atau kode keamanan lainnya kepada siapapun, termasuk jika yang meminta itu adalah pihak bank atau polisi. Bank mungkin sesekali akan menanyakan informasi pribadi, seperti tanggal lahir, nama tengah, atau nama ibu kandung Anda untuk melakukan verifikasi. Namun bank yang baik tidak akan atau tidak berhak untuk menanyakan PIN atau password rekening Bank nasabah.

5. Software Antivirus
Komputer yang Anda gunakan untuk melakukan transaksi e-banking juga harus dibekali sistem keamanan yang mumpuni, dalam hal ini adalah ketersediaan antivirus dan perangkat internet sekuriti. Sebab aplikasi penjaga ini akan melindungi pengguna ketika berselancar di dunia maya yang penuh dengan jebakan program jahat dan hacker.

Namun yang harus diingat adalah, lakukan update virus definisi dari software keamanan Anda. Sebab jika tidak terus diperbaharui akan menjadi percuma.

6. Kumpulkan Kuitansi
Hal ini sepele, namun ketika usai bertransaksi online, ada baiknya bukti-bukti transaksi elektronik tersebut dikumpulkan dalam satu file. Hal ini untuk proses verifikasi ketika ada transaksi-transaksi mencurigakan di rekening Anda.

7. Pencucian Uang
Hindari menggunakan akun rekening pribadi untuk beragam aktivitas transaksi bisnis yang melibatkan uang orang lain dalam jumlah banyak. Sebab, ini bisa dianggap sebagai aktivitas money laundering (pencucian uang) dan dilarang oleh hukum.

Radiasi Ponsel terhadap Otak

Hasil penelitian terbaru dari WHO mengungkapkan bahwa radiasi ponsel dapat menyebabkan kanker otak. Radiasi ponsel dikategorikan sama dengan zat karsinogenik berbahaya seperti timbal, asap knalpot, dan kloroform.


1. Gunakan Headset
Inilah cara yang paling mudah untuk menangkal ancaman radiasi ponsel. Tentu saja, kita tidak bisa menolak untuk menerima panggilan telepon. Namun jika Anda masih khawatir, ada baiknya menggunakan headset. Intinya adalah telepon genggam Anda, tidak terlalu dekat dengan otak.

2. Kurangi Bluetooth dan Headset Wireless
Menggunakan headset bisa menjadi pilihan untuk mengurangi radiasi ponsel. Namun ingat, pilih headset yang konvensional alias yang masih menggunakan kabel untuk terhubung dengan ponsel. Jangan menggunakan headset wireless. Fitur bluetooth di ponsel juga jangan terus menerus diaktifkan, gunakan seperlunya.

3. Speakerphone
Menggunakan speaker ketika bertelepon juga bisa menjadi pilihan. Namun tentu saja, ada rasa kurang nyaman ketika hal ini dilakukan di tempat publik. Tapi setidaknya, Anda tidak harus menempelkan ponsel di kepala ketika bertelepon. Jadi pilihan ini mungkin bisa digunakan ketika Anda tengah berada di tempat privat seperti di rumah.

4. Casing Penahan Radiasi
Kekhawatiran radiasi ponsel belakangan memunculkan casing berkemampuan khusus yang diklaim bisa meminimalisir hantaran radiasi yang berasal dari ponsel. Jika dirasa diperlukan, mungkin Anda bisa mencarinya di pertokoan.

5. Sudut Ruangan
Hindari menerima telepon di sudut ruangan. Sudut ruangan yang biasanya sepi namun di sisi lain terkadang juga menjadi tempat di mana sinyal telepon menjadi lemah. Nah, sinyal yang lemah justru dikatakan memicu radiasi yang lebih tinggi. Hal ini berlaku pula di area yang sempit/kecil seperti lift.

6. Jangan Selalu Menempel
Ponsel yang Anda gunakan boleh saja menjadi gadget kesayangan, namun untuk kesehatan yang lebih baik, ada baiknya Anda jangan selalu nempel dengan ponsel tersebut. Ponsel yang tidak digunakan direkomendasikan ditaruh di tas atau di atas meja. Hal ini dikatakan lebih baik ketimbang ditempatkan di kantong celana.

7. Diam Kala Menelpon
Ketika menerima telepon sebaiknya Anda tidak berjalan-jalan. Pasalnya, dalam keadaan bergerak maka sinyal ponsel akan terus mencari pancaran sinyal yang kuat dari base transceiver station (BTS). Aktivitas ini justru akan menguatkan radiasi.

8. Gunakan Dua Telinga
Hindari penggunaan satu bagian telinga ketika bertelepon. Misalnya, selalu menerima telepon dengan telinga bagian kiri saja. Menurut para ahli, hal ini justru tidak baik. Manfaatkan kedua telinga Anda untuk meminimalisir radiasi yang terpancar.


Saat ini Badan Lingkungan Eropa telah mendorong untuk melakukan studi lebih lanjut. Namun tidak salahnya juga kan kita melakukan suatu langkah antisipasi ketimbang mengambil risiko di masa depan.

Cara Melaporkan Abuse di Facebook dan Twitter


Media sosial macam Facebook dan Twitter dinilai sering dijadikan sarana untuk melakukan abuse via dunia maya. Ingin segera menghentikan aksi negatif tersebut? Langsung saja laporkan kepada si pemilik layanan.

Abuse sendiri memiliki banyak makna. Bisa dianggap sebagai tindak kekerasan, ancaman, pelecehan, lontaran kata-kata kotor, umpatan, dan aksi penyalahgunaan media sosial lainnya.

Berhubung banyaknya pertanyaan tentang bagaimana cara mengantisipasi atau melaporkan abuse pada media sosial luar negeri, maka berikut ini saya coba susun beberapa solusi yang dirangkum dari sejumlah situs.

I. Facebook

Pada halaman muka (wall) kawan, di bagian kiri bawah, terdapat link "LAPORKAN/BLOKIR ORANG INI/Report/Block this person". Klik link ini HANYA ketika ada masalah, semisal pencurian akun password ataupun hal-hal lain yang mengganggu/melanggar ketentuan yang ada.

Terdapat opsi di antaranya:
A. Untuk Kawan yang masih terhubung:
1. UNFRIEND: mengeluarkan yang bersangkutan dari daftar pertemanan.
2. BLOCK: memblokir kawan kita ini dari postingan, dengan demikian semua postingan yang dikirim olehnya tidak akan muncul di wall kita.

B.Opsi lain:
1. Kawan saya ini mengganggu saya
2. Kawan saya ini menjadi seseorang yang tidak pernah ada (identitas palsu). Ada opsi pilihan di bawahnya:
a. Mengaku sebagai diri saya (pelapor)
b. Mengaku sebagai orang yang saya kenal
c. Mengaku sebagai selebriti
d. Mewakili entitas bisnis
e. Identitas palsu yang tidak pernah ada didunia nyata.
3. Foto Profil yang tidak tepat/tidak pantas (misal: foto profil merupakan foto orang lain, pornografi, dan lainnya)
4. Postingan wall yang tidak pantas
5. Kawan saya ini melakukan penghinaan dan pelecehan terhadap saya (cyber bulying):
a. Mengaku sebagai saya
b. Mengaku sebagai kawan yang saya kenal
c. Lain-lain

Kemudian jangan lupa klik lanjutkan/continue.

Semakin banyak kawan kita yang melaporkan yang bersangkutan, maka akan semakin cepat tindak lanjut dari pihak FaceBook.

II. Twitter

Peraturan di Twitter yang dapat segera dikomplain:
# Brand and Trademark Complaints (Komplain brand dan Paten)
# Breach of Privacy (Komplain terkait kerahasiaan)
# Child Pornography (Pornografi Anak)
# Copyright Complaints (Komplain HaKI)
# Harassment and Violent Threats Policy (Komplain pelecehan dan ancaman Kekerasan)
# Impersonation (Penghinaan)
# Name Squatting (Pencatutan nama)
# Reposting Others' Content without Attribution (memposting ulang konten pihak lainnya tanpa seizin yang bersangkutan)
# Pornography (Pornografi)

Prosedur komplain: http://support.twitter.com/forms

Selain itu, terdapat pula prosedur komplain untuk masalah abuse yang tidak tercakup dalam peraturan di Twitter, yaitu dengan memilih menu EVERYTHING ELSE (setelah login):
1. Pilih salah satu topik aduan:
- Problem pada password dan login
- Akun yang dibekukan (suspend)
- Akun Phishing atau akun yang dibajak.
- Penghinaan/pelecehan
- Setting Profil
- Deaktifasi dan Restorasi akun
- Masalah pada Tweets dan pesan-pesan
- Foto pada akun twitter
- Akun user yang tidak aktif
- HaKI/Copyrights/DCMA
- Merk/Trademark
- Tindakan yang mengganggu
- Aplikasi, Mobile dan SMS
- Pelaporan Spam dan pornografi
- Pencarian dan Tren
- Yang saya laporkan belum ada dalam daftar

2. Judul laporan

3. Isi laporan

4. Informasi yang mengadukan/pihak yang membuat laporan:
- Nama
- Akun Twitter
- email
- Telpon

5 Mitos Media Sosial Bagi Perusahaan


Kehidupan berinternet kini sudah sulit dilepaskan dengan aktivitas media sosial, tak terkecuali bagi perusahaan. Namun ada beberapa pandangan yang begitu diyakini, namun sejatinya cuma sekadar mitos.
Berikut 5 di antaranya, menurut pengamat media sosial Allyson Kapin dari Frogloop

1. Facebook Gantikan Situs
Halaman yang bermunculan di Facebook saat ini sudah tidak lagi difungsikan sebagai alat 'promosi' pribadi. Sudah banyak perusahaan dengan merek-merek tenar yang juga menjadikan sarana ini untuk lebih dekat dengan pelanggan atau target pasarnya.

Namun mari jernihkan tentang satu hal, keberadaan akun di Facebook bukan berarti menggantikan peran situs perusahaan!

Pasalnya, akun Facebook memiliki keterbatasan sehingga data-data yang ada sulit dianalisis. Kemudian dengan menempatkan segala informasi di Facebook berarti kita tengah menumpang di tempat orang. Bagaimana nasib dan pengelolaan pelanggan dan data-data yang sudah diposting ketika Facebook menutup akun tersebut?

Intinya, situs memiliki keunggulan lebih dalam hal personalisasi ketimbang Facebook. Namun tak ada salahnya juga memanfaatkan situs jejaring sosial untuk lebih mempromosikan diri, asal bukan sebagai pengganti situs.

2. Menggalang Dana Taktis
Keberadaan media sosial memang pernah terbukti untuk menggalang dana. Contoh nyatanya seperti yang dilakukan Barack Obama kala bertarung dalam perburuan kursi presiden Amerika Serikat. Saat itu, kampanye tim sukses Obama via media sosial sukses menggetarkan hati pendukungnya untuk mengucurkan dana.

Namun sayang, perusahaan Anda tak sepopuler gaung kampanye Obama dan Anda tidak dalam posisi mengejar kursi nomor satu di negeri adidaya. Jadi jangan dipikir menggalang dana di media sosial akan semudah seperti yang dilakukan Obama.

Meski demikian, di Indonesia sejatinya pernah terjadi kejadian serupa, namun dalam beda konteks. Yaitu ajakan penggalangan koin untuk Prita yang berhasil mengumpulkan tumpukan koin dalam jumlah sangat banyak.

Namun lagi-lagi, hal ini perlu usaha ekstra besar untuk mencolek hati massa hingga akhirnya mampu membangkitkan efek psikologis seperti apa yang telah terjadi dalam kasus Prita.

3. Membuat Aplikasi
Berbagai aplikasi mobile kini bermunculan, namun apakah ini berarti perusahaan Anda juga harus membuatnya? Tidak! Sejumlah perusahaan bergerak untuk membangun aplikasi dengan harapan, aplikasi tersebut dapat membuat atau setidaknya bisa meningkatkan pendapatan perusahaan.

Tetapi bagi organisasi nonprofit, pembuatan aplikasi malah jadi sumber pengeluaran dan buang-buang waktu. Pelajari dulu jika ingin berinvestasi, apakah hal itu benar-benar dibutuhkan perusahaan.

4. Tak Ada Biaya Sepeserpun
Sejumlah perusahaan kini menjadikan media sosial macam Facebook dan Twitter sebagai media untuk branding produknya. Memang jika dihitung secara kasat mata, berpromosi di kedua media sosial tersebut tak mengeluarkan biaya.

Namun padahal, aktivitas tersebut sejatinya tak benar-benar gratis seperti yang dibayangkan. Sebab pada kenyataannya ada biaya-biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menjalankan aktivitas ini, seperti membayar biaya sumber daya manusia (SDM) sebagai pihak yang menjalankan aktivitas di media sosial serta faktor waktu.

5. Butuh Departemen Khusus
Untuk mengelola aktivitas marketing komunikasi di media sosial juga tak butuh departemen khusus. Aktivitas di Facebook cs ini seyogyanya bisa diintegerasikan dengan peran di departemen lain, sehingga keberadaan divisinya pun bisa dikolaborasikan.

 
FaceBlog © Copyright 2009 No Money No Honey | Blogger XML Coded And Designed by SUTAMA